BUKU, Jendela Ilmu

Oleh: Dian Martiani (Kepala Inspektorat Yayasan Adzkia, Penulis Buku)

Bahagia rasanya ketika gerakan literasi mulai menggeliat di negeri ini.  Sebuah budaya baik, semoga dapat meningkatkan mutu Sumberdaya Manusia di Indonesia, ditengah minimnya minat baca generasi muda kita.  Dalam laman rri.co.id menyebutkan  bahwa kemajuan teknologi dengan fitur-fitur canggih membuat orang khususnya generasi muda  malas untuk membaca buku.

Saat ini sulit sekali menemukan generasi milenial yang gemar membaca, mereka lebih fokus bermain game, jalan-jalan, bermain gadget, selfi-selfi dan update sosial media.  Dampaknya adalah minat baca semakin berkurang, sekarang lebih banyak anak-anak maupun orangtua yang menggunakan gadget dari pada menggunakan buku, lebih banyak yang membaca tulisan di gadget dari pada tulisan dibuku.

Dalam kutipan media Kumparan, menyebutkan Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan pada Selasa (3/12) memotret sekelumit masalah pendidikan Indonesia. Dalam kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia terg olong rendah karena berada di urutan ke-74 dari 79 negara. Skor pada Periode sebelumnya adalah Survei PISA 2009, Peringkat Ke-57 dari 65 Negara, tahun 2012, peringkat Ke-64 dari 65 Negara, tahun 2015, Indonesia Peringkat Ke-64 dari 72 Negara.

PISA merupakan program tiga tahun sekali yang digagas oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) untuk mengukur kompetensi belajar peserta didik global.  Selama empat periode berturut-turut, Indonesia “sukses” menempatkan diri dalam urutan buncit.  Ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi kita semua.  Apa sebenarnya yang menjadi penyebab dari semua ini?

Laman tirto.id menyebutkan bahwa salah satu penyebab hasil survei PISA yang rendah yang mendasar adalah adanya kurikulum yang kurang tepat pada tingkat Pendidikan Dasar dan menengah.  Dalam laman ini disebutkan selama ini, Indonesia sudah berganti sebanyak sebelas kali model kurikulum sejak tahun 1947. Tahun 1947 (Rencana Pelajaran), Tahun 1964 (Rencana Pendidikan Sekolah Dasar), tahun 1968(Kurikulum Sekolah Dasar),  tahun 1973 (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan).

Di tahun 1975 (Kurikulum Sekolah Dasar), kemudian berganti menjadi Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Revisi Kurikulum 1994 di tahun 1997, Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di tahum 2004. Lalu dua tahun kemudian (2006) beralih ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan terakhir Kurikulum 2013.  Sempat kembali ke Kurikulum 2006, setelah itu Kurikulum 2013 lagi.

Dari sekian banyak metode belajar, tak satupun yang menganut sistem HOTS. Indonesia masih menggunakan metode tipe Lower-Medium Order Thinking. Fakta ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan perlu dibenahi secara menyeluruh. PISA adalah tolak ukur kegagalan uji coba pendidikan Indonesia yang selalu berganti setiap ada perubahan menteri.

Mas Nadiem mencoba mencari jalan keluar dengan menerapkan konsep Merdeka Belajar dengan Model Rencana Pembelajaran yang lebih simpel.  Semoga ikhtiar Mas Nadiem ini dapat membuat rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, dapat lebih menunjukkan kemajuan hasil belajar, terutama meningkatnya minat membaca.  Tingkat minat membaca ini, sangat mempengaruhi jumlah buku yang diproduksi di tanah air.
 
Dalam laman KOMPAS.com disebutkan, jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang (40.000 judul, India 60.000 judul, dan China sekitar 140.000). Rendahnya produksi buku ini, menurut Hikmat Kurnia, Ketua Panitia Jakarta Book Fair 2012, terutama dipengaruhi rendahnya daya beli dan minat baca masyarakat.

Mengutip sebuat tulisan pada laman halodoc Membaca Buku, sebenarnya mengandung banyak manfaat positif.  Manfaat itu diantaranya adalah Memperlambat Proses Penyakit Alzheimer, Meningkatkan Daya Ingat, Meningkatkan Kemampuan Konsentrasi, Menurunkan Risiko Stres dan Depresi, Merupakan Hiburan Murah, dan Meningkatkan Kemampuan Komunikasi.  Bahkan sebuah penelitian menyebutkan, ketika seseorang membaca cerita fiksi yang sedang klimaks, maka syaraf-syaraf otaknya aktif berpendaran.  Hal ini dapat membuat otak menjadi lebih maksimal bekerja.

Paling tidak kita dapat memilih bacaan jenis apa yang kita sukai.  Banyak sekali buku-buku karya penulis Indonesia yang bisa kita nikmati diantaranya buku karya penulis  Dee lestari, Andrea Hirata, Emha Ainun Najib, Trinity, atau Maudy Ayunda, dan masih banyak lagi.  Bahkan Penulis Dee pernah membuat kata motivasi untuk menulis, halaman jelek bisa diperbaiki, halaman kosong, gak bisa diapa apain, ujarnya yang dikutip dalam laman bentang.

Pentingnya membaca dan menulis buku inilah yang mungkin menggagas ditetapkannya tanggal 23 April sebagai Hari Buku seduniadan Hari Hak Cipta sedunia.  Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta dirayakan di seluruh dunia untuk mengenali ruang lingkup buku sebagai penghubung masa lalu dan masa depan, serta menjadi jembatan budaya dan generasi(Kompas com).  Faktanya kaum intelektual yang ada dalam sejarah, pasti dekat dengan Buku.

“Buku memiliki kemampuan unik untuk menghibur dan mengajar. Buku merupakan sarana untuk menjelajahi alam di luar pengalaman pribadi kita melalui paparan berbagai penulis, alam semesta, dan budaya. Buku menjadi sarana untuk mengakses relung terdalam diri batin kita,” demikian Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, dalam peringatan Hari Buku Sedunia 2020 sebagaimana dikutip dari laman resmi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Ada pernyataan menyatakan bahwa sebuah negara maju, dapat dilihat dari seberapa banyak penulis tumbuh dan berkembang di negaranya.  Semoga Indonesia merupakan syurga bagi para Penulis, sehingga dapat tumbuh Penulis-Penulis muda dan kreatif, yang kelak kreatifitasnya tersebut dapat membuat minat membaca generasi muda dapat melejit, dan pada survei (PISA) berikutnya, kita tidak berada pada urutan buncit lagi.

Selamat Hari Buku sedunia, 23 April 2021.