Membangun Konsep Diri ditengah Pandemi

Dian Martiani*

“Bundaa, udah ya belajarnya..”, mata gadis kecilku memelas memintaku berhenti menemaninya belajar.  Padahal saya temani ia belajar dengan menyertakan selusin boneka kesayangannya, agar suasananya menjadi nyaman.  Sambil menatap mata bening yang menghiba itu saya berkata,  “Satu ayat lagi ya sayang, setelah itu, Adek boleh main dengan Aci (boneka burung hantu berwarna pink miliknya), “ saya meminta untuk bertahan sedikit lagi.  Meski agak manyun, ia pun mengangguk tanda setuju.

Mulailah kami melafadzkan Qur’an surat al Bayyinah ayat 1-4 yang harus disetor esok pagi di kelas daringnya.  Akhir pekan, biasanya memang waktunya mengecek tugas-tugas anak-anak yang sedang daring.  Dihari kerja, kadang pengecekan kurang optimal, karena berkejaran dengan deadline tugas-tugas kantor.  Sebagai ibu bekerja, dengan memiliki empat orang anak sekolah daring yang harus didampingi, memang agak menyita energi.

Akhir pekan begini, beberapa tugas dirapel untuk dituntaskan.  Selain menghafal Al Qur’an, ada tugas Matematika, Bahasa Indonesia, dan Video gerak dan Tari.  Meski menggunakan Teknik Pomodoro (jeda setiap waktu tertentu dan beraktifitas lain agar tetap segar), bungsuku itu tampak sedikit lelah.  Bahkan pembuatan Video Tarinya tidak bisa sampai tuntas, karena ia keburu bete (bad mood). 

Membiarkannya bermain bersama alat-alat dokter kesukaannya adalah salah satu upaya agar ia merasa nyaman dan siap berjuang kembali menyelesaikan tugas-tugas lainnya.  Keesokan harinya, selepas shalat shubuh berjamaah yang diimami anak kedua saya, siswa SMA yang belum sempat mengenakan seragam putih  abu-abu karena daring itu, kembali saya bujuk bungsuku yang baru menginjak usia tujuh tahun ini untuk menggugurkan tugasnya.  Kali ini tugas membaca Rusydan (sebuah metode membaca Al Qur’an inovasi sekolah kami). 

“Ade, kita baca Rusydan yuk”, saya mencoba mengajaknya belajar.  Agak deg-degan, menunggu bagaimana responnya.  “Aah, bunda…ini kan hari Minggu, Adek mau santai”, katanya keberatan.  “Dek, tahu gak, kalau setelah shubuh ini, otak kita dalam kondisi terbaik loh” mencoba menyemangatinya.  “Otak terbaik itu apa”, katanya lugu.  Sambil tersenyum, saya mencoba memberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana, ala anak kelas dua SD.  “Ayo, otak terbaik…mari kita baca …” ajakan saya dengan memberinya konsep diri yang positif, berhasil membuatnya semangat untuk belajar membaca Al Qur’an.  Lumayan, bisa menyelesaikan dua dari tujuh baris yang harus dikuasainya.

Ditengah situasi pandemi seperti ini, dimana siswa-siswa dalam kondisi yang sedang jenuh belajar secara daring, orang tua, sebagai orang terdekat, harus dapat menanamkan konsep diri yang positif kepada anak.  Memandang situasi dengan cara pandang positif, dan menanamkan konsep-konsep diri yang positif, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang optimis, semangat, dan percaya diri dalam menghadapi hidup.

Konsep diri artinya bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.  Konsep diri dapat dibangun oleh dirinya (internal), maupun dibangun oleh lingkungan sekitarnya (eksternal).  Konsep diri yang terbangun dapat dikategorikan positif maupun negatif, tergantung stimulan yang diterimanya.  Konsep diri yang positif akan menyebabkan sikap ikutan yang positif, demikian juga sebaliknya (Irwan Parayitno, 2021).

Maka ketika konsep diri terhadap pandemi adalah positif, maka sikap ikutannya juga positif, seperti tetap optimis, tetap bersyukur, dan bersandar pada Allah semata dalam menghadapinya.  Sebaliknya, jika konsep dirinya negatif, maka sikap ikutannya juga negatif, seperti sedih, kecewa, banyak mengeluh, dan bahkan menyalahkan keadaan. 

Seberat apapun yang dirasakan anak-anak kita, mari bangun konsep diri positif, membangun citra positif atas diri anak-anak kita, sehingga, meskipun pandemi, mereka tetap dapat tumbuh menjadi pribadi-pribadi positif.  Hindari melabel mereka dengan label negatif, karena itu akan menjadi konsep terhadap dirinya.  Memberi nama anak yang positif adalah bentuk peenanaman konsep diri positif sejak dini.

Menarik kajian yang disampaikan Prof Irwan Prayito, pakar SDM beberapa waktu lalu, bahwa bukan hanya orang tua yang dapat membentuk konsep diri positif/negatif pada anak.  Seorang Pemimpin juga dapat menentukan konsep diri  pada bawahan yang dipimpinnya. Ini mengandung makna, lingkungan yang diciptakan atau dibangun oleh seorang pemimpin, akan sangat signifikan dalam menentukan konsep diri SDM yang dipimpinnya.

Pemimpin yang dimaksud adalah boleh jadi, suami atas istrinya, orang tua atas anaknya, Kepala Sekolah atas gurunya, guru atas siswanya, direktur pada pegawainya, manager pada karyawannya, dan sebagainya.  Definisi pemimpin secara umum adalah orang yang memimpin, mengayomi, membimbing, memotivasi, mengarahkan, bahkan juga menggerakan.

Sebaik apapun konsep diri yang dimiliki oleh seorang bawahan, apabila pemimpinnya tidak memberikan respon positif, menegasikan potensinya, serta tidak menghargai kelebihan-kelebihan bawahannya, maka konsep diri bawahan tersebut dapat berubah menjadi negatif.  Alih-alih potensinya melejit, bahkan ia akan mati kreatifitasnya, dan akhirnya menjadi layu semangatnya, berujung tumbuhnya jiwa apatis dalam dirinya.

Pemimpin seperti ini dikenal dengan pemimpin bermata lalat.  Yang terlihat oleh dirinya adalah kelemahan dan kekurangan bawahannya saja.  Padahal keurangan atau kelemahan pegawainya hanya dua saja, sedangkan kelebihannya lebih dari sepuluh, namun tetap saja yang terlihat kesalahannya.  Pemimpin seperti ini, akan berfokus pada kelemahan bawahannya, sibuk memberi sanksi, sementara kelebihan dari bawahannya yang jauh lebih banyak, tidak menjadi fokus perhatiannya untuk diberdayakan, diapresiasi, bahkan dikembangkan.

Setiap diri adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.  Mari menjadi pemimpin yang mengquantumkan potensi bawahan kita.  Pemimpin yang menggunakan mata hatinya untuk melihat kebaikan dan kelebihan bawahannya.  Membangun konsep diri yang positif.  Menjadikan bawahannya sebagai tim champion , tim yang akan membawa kemajuan dan kemaslahatan bersama.  Kelak, pemimpin seperti ini akan menjadi sesosok jiwa yang dirindukan dan berlimpah do’a do’a terbaik dari bawahannya. Semoga.

*Penulis adalah Kepala Inspektorat Yayasan Adzkia Sumbar, Peserta Diklat Pimpinan Yayasan Adzkia Sumatera Barat.