Profil Adzkia Sumbar


Yayasan Adzkia Sumatera Barat merupakan lembaga pendidikan islam yang berkantor pusat di Jalan Taratak Paneh No. 7, Kuranji-Padang. Adzkia berdiri pada tahun 1988. Berdirinya Adzkia berawal dari bimbingan belajar Adzkia tahun 1987 yang berpusat di Lolong Padang dan didirikan oleh Prof. Dr. Irwan Prayitno, Dr. Syukri Arief, M. Eng, Mahyeldi Ansharullah, SP dan kawan-kawan.

      Pada tahun 1993 Adzkia mendirikan sebuah Taman Kanak-kanak di daerah Purus. Kemudian lahirlah SD Adzkia yang pertama tahun 1996 terletak di Jalan Taratak Paneh, Kuranji-Padang. Setelah lulusan pertama SD Adzkia tahun 2001, maka pada tahun 2002 didirikanlah SMP IT Adzkia yang juga beralamat di Taratak Paneh. Disamping itu, sejak tahun 1994 Yayasan Adzkia Sumatera Barat juga telah mengelola Perguruan Tinggi yaitu Akademi Pendidikan Islam Adzkia (AKIA) dengan dua program studi yaitu D.II PGTK dan D.II PGSD. Pada tahun 2003 Akademi Pendidikan Islam Adzkia berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiayah Adzkia (STIT Adzkia). Pada tahun 2009 Yayasan Adzkia Sumatera Barat mengelola Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan dua program studi yaitu; Pendidikan Guru Anak Usia Dini (PG PAUD), dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Perkembangan Lembaga Pendidikan Yayasan Adzkia untuk saat sekarang ini terus berkembang dan meningkat.

 

VISI Adzkia

Lembaga Pendidikan Islam Terpadu dan Sosial Rujukan di Indonesia tahun 2025

 
MISI Adzkia
  1. Menjadikan Adzkia sebagai pusat aktifitas Islam yang strategis, sebagai sarana efektif untuk penyebaran fikrah dan nilai-nilai Islam.
  2. Menjadikan Adzkia sebagai wadah penghimpun SDM dalam rangka berkhidmat untuk kejayaan ummat bangsa dan negara.
  3. Bersama ummat menjalankan, memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai ajaran Islam.
 

      Jumlah guru dan pegawai Yayasan Adzkia Sumatera Barat sudah mencapai ± 400 orang. SDM yang ada di Yayasan Adzkia Sumatera Barat selalu memberikan kontribusi yang baik untuk  semua stake holder yang ada, baik internal, maupun eksternal. Selama ini kegiatan-kegiatan untuk pembinaan sudah banyak dilakukan seperti Dauroh, tasyqif, serta pembinaan-pembinaan lainnya. Begitu juga bentuk pelayanan berupa sarana Penyaluran Minat Bakat Guru, pemberian Tunpres dan reward-reward lainnya.

      Kurikulum yang digunakan di Adzkia sebagian besar memakai KTSP yang dipadukan dengan kurikulum khusus Adzkia dan dilengkapi dengan materi life skill dengan berlandaskan kurikulum berbasis kompetensi yang dapat merangsang enam kecerdasan (Multiple Intel Egences) dan semua pelaksanaan kurikulum tersebut diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam. Lulusan Adzkia telah dibina dan dididik menjadi seseorang yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia yang kreatif, terampil dan inovatif dan mampu berprestasi dibidang akademik maupun non akademik. Serta memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk bersaing dengan sekolah lain dan dunia kerja

 

"Berprestasi Dalam Ridho ALLAH"

Adzkia Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2022/2023

Tahun ajaran baru di depan mata. Orang tua yang ingin pendidikan terbaik untuk anak-anaknya, Adzkia menjadi pilihan yang tepat. Adzkia sudah membuka pendaftaran peserta didik baru untuk tahun ajaran 2022/2023.

Ketua PPDB Adzkia, Ronika Putra, Senin (1/11) menyebutkan, pandaftaran peserta didik baru terbuka untuk tingkat layanan pendidikan TK-SDIT dan SMPIT. PPDB dilaksanakan secara online untuk seluruh pendaftaran, baik yang ada di Kota Padang, Bukittinggi maupun Payakumbuh.

Ronika mengurai, sekolah-sekolah Adzkia yang akan melakukan penerimaan peserta didik baru adalah TKIT  yang ada di Kota Padang, yaitu TKIT Adzkia 1 yang beralamat di Jati, TKIT Adzkia 2 Pasir Putih, TKIT Adzkia 3 Kuranji, TKIT adzkia 4 di Padang Pasir, dan TKIT Adzkia 5 beralamat di Palimo Pauh. Sedangkan TKIT yang ada di Bukittinggi dan Payakimbuh, yaitu TKIT Adzkia Bukittinggi yang beralamat di Jalan Hamka Bukittinggi dan TKIT Adzkia Payakumbuh yang beralamat di Jalan Hasanuddin Ibuh Payakumbuh.

Penerimaan peserta didik baru untuk tingkat SD, yaitu SDIT Adzkia 1 dan 2 berlokasi di Kuranji Padang, SDIT Adzkia 3 di Belanti dan SDIT Adzkia 4 Bukittinggi beralamat di Jalan Hamka Bukittinggi yang satu komplek dengan TKIT Adzkia Bukittinggi. Sedangkan untuk tingkat SMP, penerimaan peserta didik baru mulai di SMPIT Adzkia yang beralamat di Kuranji Padang.

Ronika Putra menyebutkan, PPDB tahun ini merupakan tahun ke-4 Adzkia melaksanakan PPDB secara online, baik pendaftaran maupun pembayaran uang pendaftaran dan biaya-biaya lainnya. “Ini merupakan komitmen kami dari Adzkia untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk memudahkan walimurid untuk melakukan pendaftaran sekolah  putra-putri tercintanya,” ujar Ronika.

Pendaftaran menurut Ronika dimulai tanggal 2 November 2021 untuk tingkat TK dan SD, baik internal maupun eksternal Adzkia. Sedangkan, untuk pendaftaran SMPIT Adzkia berlaku internal, yaitu calon peserta didik dari SDIT Adzkia. Pendaftaran tambahan direncanakan bulan Desember jika kuota masih tersedia.

Adzkia membuka pendaftaran peserta didik baru selalu lebih awal. Hal itu menurut Ronika karena begitu banyak peminat untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah ini. Karena itu, Ronika mengimbau untuk calon peserta didik baru segera mendaftarkan. Bagi yang mau mendaftar cukup melalui link.  https://ppdb.adzkiasumbar.or.id. “Insya Allah, kita akan melaksanakan launching secara virtual,” tambah Ronika.*

Mencitai Nabi (kenapa dan Bagimana?)

Tatsqif Guru/Dosen dan Pegawai Yayasan Adzkia Sumatera Barat.

"Melihatkan cinta kepada Rasulullah SAW merupakan bagian dari keimanan"

Kenapa harus mencintai Rasulullah?
1. Mencintai nabi Muhammad SAW merupakan bagian penting dari beriman kepada Rasul. 
Nabi SAW Penah Bersabada yang Artinya “Tidak sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai Allah dan rasulnya lebih dari yang lain”.  Ada 3 golongan yang akan merasakan nikmatnya iman salah satunya Mencinta Rasullullah SAW.

2. Diakhirat seseorang akan dibangkitkan bersama orang-orang  yang dicintainya. Ada Hadis yang  artinya:  seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. (HR Al-Bukhari dan Imam Muslim). Orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW akan berkumpul dengan Rasulullah SAW  di akhirat (Great opportunity to meet Rasulullah SAW).
Adapun Orangorang  yang akan berjumpa dengan Rasulullah diantaranya adalah: orang yang jujur,syuhada’ ,orang-orang yang Sholeh, sebaik baiknya pendamping/teman kebaikan.

3. Rasulullah SAW  merupakan hadiah terbaik yang  Allah kirim untuk manusia. 
Q. S Ali Imran : 164
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Bagaimana mencintai Rasulullah?
1. Mempelajari Sirah Nabawiyah
2. Mentaati Rasulullah SAW
3. Harus memiliki rasa cemburu jika Rasulullah dihinakan/ direndahkan.
4. Selalu ingat kepada Rasulullah SAWdan berharap bertemu Rasulullah S.A.W
5. Mencintai orang-orang yg Rasulullah cintai
6. Berusaha berakhlak seperti Rasulullah SAW.

Ringkasan tastqif Guru, Dosen dan Pegawai YASB

Lomba Hari Guru 2021

Assalamu'alaikum😇

🎉🎉🎉🎉🎉
Dalam rangka Hari Guru Nasional 25 November 2021, Yayasan Adzkia Sumatera Barat mempersembahkan:

1️⃣ Lomba Best Practice
Tema: Meningkatkan Kreatifitas, Motivasi dan Profesionalisme
Peserta: Kepala Sekolah dan Guru
CP : Fitra 085274006671
Syarat dan link:
https://adzkiasumbar.or.id/images/BP.pdf

2️⃣ Lomba Video Ceramah Pendek
Tema : Pendidikan dan Sedekah (Semangat Berbagi)
Peserta: Guru, Dosen dan Pegawai
CP : Hendra 085266868020
Syarat dan link:
https://adzkiasumbar.or.id/images/CP.docx

3️⃣ Lomba Video Pembelajaran & Pelayanan dan Sayembara Foto
Kategori:
a. Guru (Video Pembelajaran)
b. Dosen (Video Perkuliahan)
c. Pegawai (Video Layanan)
d. Guru, Dosen, Pegawai, Siswa, Mahasiswa dan Orang Tua Siswa (Sayembara Foto)
CP : Rizki 085374709895
Syarat dan link pendaftaran:
https://adzkiasumbar.or.id/images/VF.docx

4️⃣ Lomba Quizizz Wawasan Keislaman dan Al Qur'an
Tiga Kategori:
1. Dosen/Guru Quran
2. Dosen/Non Quran
3. Tenaga Teknis
CP: Siska 085272068592  
Syarat dan link pendaftaran:
(menyusul)

📆 Batas pendaftaran/pengumpulan karya: 31 Oktober 2021. Pengumuman Pemenang pada Acara Puncak : 20 November 2021
🚫 Tidak dipungut biaya pendaftaran (GRATISSS)
🎊 Berhadiah Menarik
🧾 sertifikat bagi finalis

🖱️ Info lengkap:
https://www.adzkiasumbar.or.id/posting/lomba-hari-guru-2021

Yuk, jangan sampai ketinggalan! Ayo kita ikuti dan ramaikan☺️

Terima kasih,
Wassalamu'alaikum😇

Minat Baca Vs Daya Baca

-Dian Martiani*-

 

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi saya dengan seorang guru Fisika SMA senior jebolan kampus ITB.  Beliau kerap mengomentari tulisan saya, sembari mendiskusikan point-point penting isinya menurut ulasan beliau.  Kebiasaan yang selalu saya apresiasi, karena jarang-jarang ada yang memberi feedback serius terhadap tulisan saya yang dimuat sebagai opini dibeberapa media cetak maupun on line.

Saya bertanya, mengapa beliau suka sekali membaca.  Rupanya kebiasaan ini sudah tertanam sejak kecil.  Orang tuanya sering kali meminta beliau membaca koran langganan keluarga, kemudian diminta mengambil intisari dari berita yang dibacanya, lalu menceritakannya.  Sudah bisa ditebak berapa rentang usia beliau, karena beliau hidup dizaman Koran/Media Cetak masih populer sebagai sumber media, selain radio dan televisi.  Namun budaya literasi (membaca)nya membuat kita kagum. 

Budaya membaca didalam keluarga, yang diterapkan sejak dini, ternyata mampu menjadikan budaya ini tertanam hingga usia beliau hampir memasuki pensiun.  Semangat membacanya bahkan mengalahkan anak muda.  Judul tulisan ini, terinspirasi dari perkataan beliau, bahwa boleh jadi minat baca kebanyakan generasi muda saat ini tinggi, namun daya bacanya rendah.  Sebuah pernyataan yang menggelitik naluri menulis saya.

Laman Perpusnas. goid menyebutkan definisi minat adalah dorongan hati yang tinggi untuk melakukan sesuatu, maka "minat baca" adalah dorongan dari hati yang tinggi untuk membaca. Minat baca masyarakat Indonesia, baik generasi muda maupun yang sudah berusia lanjut, dinilai masih signifikan. Minat baca yang dimaksud baru seputar membaca ringan, membaca media sosial, dan membaca gambar/video.  Saat ini, orang lebih suka asyik sendiri dengan gadgetnya ketimbang bercengkrama dengan orang disekitarnya. 

Laman KemenKominfo RI menyebutkan sebuah fakta bahwa ada 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget (urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget). Lembaga riset digital marketing Emarketer menyatakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

Minat baca seperti ini belum dikategorikan minat baca yang dimaksud secara lazim.  UNESCO menyebutkan Indeks Literasi Indonesia sangat rendah , artinya minat baca orang Indonesia sangat rendah, hanya 0,001%.  Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!.  Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, menyatakan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara.

Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran dalam hal kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Jakarta lah kota paling cerewet di dunia maya melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

Salah satu yang menakjubkan, Warga Jakarta tercatat paling cerewet menuangkan segala bentuk unek-unek di Twitter lebih dari 10 juta tweet setiap hari. Di posisi kedua peringkat dunia kota teraktif di Twitter ialah Tokyo. Tidak hanya cerewet, Microsoft menilai, Netizen Indonesia netizen yang kasar.  Publikasi yang mengundang keprihatinan.

Kemajuan teknologi dengan fitur-fitur canggih membuat orang khususnya generasi muda  malas untuk membaca buku.(RRI co.id).   Membaca secara mendalam dengan penuh analisa.  Kita masih merindukan tulisan-tulisan, bahkan buku yang berasal dari kaum muda sebagai produk dari bacaannya.  Hal yang pernah ditunjukkan oleh generasi terdahulu yang menunjukkan ketinggian intelektual dan semangat perjuangan.

Sebuah referensi menyebutkan, Soekarno pernah menelurkan dua jilid buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, hingga pidato yang menjadi cikal-bakal lahirnya Pancasila. Bung Hatta ,Ia memberikan maskawin berupa buku  yang ditulisnya berjudul Alam Pikiran Yunani kepada istrinya, Rahmi Rahim. Ki Hadjar Dewantara menulis Een voor Allen maar Ook Allen voor Een atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga” dan Als ik een Nederlander was atau ”Seandainya Aku Seorang Belanda”. Ki Hadjar Dewantara juga mempelopori gagasan kemerdekaan berpikir sebagai proses pendidikan.

Mengapa tokoh-tokoh itu sampai bisa menulis, bahkan menulis buku? Mereka memiliki daya baca yang tinggi.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), daya baca, berarti kemampuan membaca.  Tidak hanya berminat, namun juga memiliki kemampuan untuk menangkap isi bacaan, menganalisa, memahami intisarinya, membandingkan dengan referensi yang lain, bahkan mereproduksinya.  Mereproduksi berarti menuliskan apa yang dipahami dari bacaan, menjadi sebuah tulisan baru, hasil karya pikirannya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang peradabannya tumbuh ditengah budaya literasi yang tinggi.  Peradaban tidak bisa dibangun tanpa budaya baca, walaupun budaya baca bukan satu-satunya penentu peradaban suatu bangsa(LPMP Jatim).  Membaca dalam artian tidak sekadar membaca melainkan disertai penggalian lebih lanjut serta rekonstruksi keilmuan dari akumulasi berbagai pengetahuan.

KBBI menyebutkan dua makna istilah literasi, yaitu: (1) kemampuan menulis dan membaca; (2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu.  Pemerintah sendiri menyebutkan terdapat enam literasi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap warga negara, yakni literasi baca-tulis-hitung, literasi sains, literasi teknologi informasi dan komunikasi, literasi keuangan, literasi budaya, dan literasi kewarganegaraan (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi VI/Oktober-2016).

Menurut Elizabeth Sulzby(1986) dalam laman unsoer.ac.id, Literasi ialah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi “membaca, berbicara, menyimak dan menulis”.  Dalam literasi lain bahkan dikatakan mendengar aktif, merupakan salah satu dari kemampuan literasi.  Dalam rangka meningkatkan literasi masyarakat, sejak 2016, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meluncurkan program Gerakan Literasi Nasional yang terdiri dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Masyarakat.

Fuad Hasan yang pendapatnya senada dengan pandangan Miller dan McKenna (2016) mengenai empat faktor yang dapat memengaruhi terjadinya aktivitas literasi.  Empat hal ini yang perlu ditingkatkan jika ingin angka minat baca sekaligus daya baca meningkat.

Empat dimensi itu adalah; Pertama Proficiency atau kecakapan membaca disertai kegiatan pembinaan dan pembiasaan, hingga menjadi budaya, Kedua Akses terhadap sumber-sumber literasi, Ketiga Alternatif pilihan perangkat bacaan, dan Keempat Lingkungan yang mendukung tumbuhnya habit/kebiasaan membaca, baik di rumah, di sekolah, dan di masyarakat secara umum (Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

Fenomena yang terjadi pada generasi saat ini, tidak hanya pada rendahnya minat dan daya baca, namun ketergantungan generasi muda ini terhadap kemudahan hidup karena efek Tekhnologi.  Seorang Praktisi Pendidikan, Hadi Kusumah, mengatakan kemudahan layanan karena kemajuan tekhnologi ini, menyebabkan generasi muda menjadi malas bergerak, dan cenderung ingin dilayani.  Hal ini berimbas juga kepada cara mereka menyuarakan aspirasi.

Jika dahulu kita melihat anak muda menyuarakan aspirasi dan heroisme dengan dengan cara turun ke jalan, maka hari-hari terakhir, kita melihat mereka saat ini banyak menyuarakan melalui media sosial saja.   Meme yang diunggah beberapa waktu lalu, bertajuk Jokowi The King of Lip Service, adalah salah satu contoh kritik sosial yang mereka sampaikan, dan sempat menjadi Viral di negeri ini. 

Sebenarnya menyuarakan lewat media sosial menjadi sah-sah saja.  Namun hendaknya disertai juga dengan membaca berbagai referensi mengenai berbagai gerakan.  Menghidupkannya dalam berbagai diskusi, dan mereproduksi hasilnya berupa dokumen tertulis, bahkan buku sebagai buah karyanya. 

Daoed Joesoef, dalam Bukuku Kakiku, 2004 menyatakan bahwa “Demokrasi hanya akan berkembang di suatu masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar pendengar dan gemar berbicara.”

Belajar dari sejarah, Islam pada saat berjaya, adalah saat dimana umat Islam sangat membudayakan kegiatan literasi (baca-tulis).  Zaman Kejayaan Islam (750 M - 1258 M) adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur dari Dunia Islam menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. (Wikipedia Indonesia).

Kita semua turut bertanggung jawab untuk mengembalikan minat dan daya baca generasi muda Indonesia, jika bangsa ini ingin menjadi maju, besar, dan disegani bangsa-bangsa di dunia. Maka mari bangkitkan budaya Literasi dalam jiwa-jiwa generasi muda kita.  Sebelum terlambat, dan kehilangan momentum serta potensi bernas mereka. 

 

*Penulis adalah Kepala Inspektorat Yayasan Adzkia Sumbar, Penulis 10 Buku

Program Kunjungan Sosial, Mempererat Kekeluargaan dan Persaudaraan

Yayasan Adzkia Sumatera Barat memiliki Program Unik sekaligus unggulan untuk menambah kenyamanan Guru dan Karyawan di lembaganya, yaitu Program Kunjungan Sosial.  Program ini dikawal pelaksanaannya oleh Koordinator Urusan Humas dan Bina Lingkungan, dibawah Kesekretariatan.  Program Kunjungan Sosial ini berupa Kunjungan Silaturahim Lembaga (biasanya diwakili oleh Pimpinan di lingkungan Yayasan maupun Unit Kerja) kepada SDM Karyawan Adzkia yang mengalami duka cita atau suka cita.

Kunjungan yang dimaksud misalnya, ta’ziyah atas kematian Karyawan ,keluarga Karyawan, siswa, dan keluarga inti siswa.  Kunjungan ini dilakukan juga terhadap Tokoh yang dekat atau berjasa terhadap Yayasan Adzkia Sumatera Barat.  Sedangkan Kunjungan Tahniah (Suka Cita) berupa kunjungan Lembaga terhadap karyawan yang memiliki kabar gembira, seperti Kelahiran putra/putri, pernikahan karyawan, pernikahan keluarga inti (saudara kandung/anak kandung), syukuran, safari lebaran, dan kunjungan Lembaga ke rumah karyawan yang berprestasi.

Kunjungan ini insya Allah menjadi sarana untuk mempererat silaturahim dan mendekatkan hati antara karyawan, sehingga tercipta suasana kekeluargaan dan hidupnya rasa saling mengasihi diantara karyawan di Yayasan Adzkia Sumatera Barat. Suasana yang membuat karyawan merasa nyaman di Lembaga ini.

Hari ini, Jum’at, 27 Agustus 2021, Tim Kunjungan Sosial mengunjungi kediaman Prof H. Syukri Arief, M.Eng, Pembina Yayasan Adzkia Sumatera Barat.  Mertua beliau Bapak Madjid Hermanto, baru saja wafat pada hari Kamis, tanggal 26 Agustus 2021 di Aceh.  Acara Ta’ziyah dipandu oleh Koordinator Urusan Humas dan Bina Lingkungan Yayasan Adzkia Sumatera Barat, Ronika Putra, MPd, acara berlangsung syahdu dan khidmat.

Bapak Drs. H. Muhardanus Dt Sampono Kayo, Ketua Yayasan Adzkia Sumatera Barat, memberikan Sambutan mewakili Lembaga, selanjutnya Tadzkiroh disampaikan oleh Ustadz H. Akmal Syafar, Lc, MA. Do’a dipimpin oleh Ketua UPZ Adzkia, Ustadz Syafriyon, M.Sos.  Sambutan dari tuan rumah merupakan acara penutup dalam kegiatan Ta’ziyah ini.  Semoga kegiatan kunjungan sosial ini dapat mempererat ukhuwah diantara karyawan, menyatukan hati, dan meningkatkan rasa persaudaraan di kalangan keluarga besar Yayasan Adzkia Sumatera Barat.

Membangun Konsep Diri ditengah Pandemi

Dian Martiani*

“Bundaa, udah ya belajarnya..”, mata gadis kecilku memelas memintaku berhenti menemaninya belajar.  Padahal saya temani ia belajar dengan menyertakan selusin boneka kesayangannya, agar suasananya menjadi nyaman.  Sambil menatap mata bening yang menghiba itu saya berkata,  “Satu ayat lagi ya sayang, setelah itu, Adek boleh main dengan Aci (boneka burung hantu berwarna pink miliknya), “ saya meminta untuk bertahan sedikit lagi.  Meski agak manyun, ia pun mengangguk tanda setuju.

Mulailah kami melafadzkan Qur’an surat al Bayyinah ayat 1-4 yang harus disetor esok pagi di kelas daringnya.  Akhir pekan, biasanya memang waktunya mengecek tugas-tugas anak-anak yang sedang daring.  Dihari kerja, kadang pengecekan kurang optimal, karena berkejaran dengan deadline tugas-tugas kantor.  Sebagai ibu bekerja, dengan memiliki empat orang anak sekolah daring yang harus didampingi, memang agak menyita energi.

Akhir pekan begini, beberapa tugas dirapel untuk dituntaskan.  Selain menghafal Al Qur’an, ada tugas Matematika, Bahasa Indonesia, dan Video gerak dan Tari.  Meski menggunakan Teknik Pomodoro (jeda setiap waktu tertentu dan beraktifitas lain agar tetap segar), bungsuku itu tampak sedikit lelah.  Bahkan pembuatan Video Tarinya tidak bisa sampai tuntas, karena ia keburu bete (bad mood). 

Membiarkannya bermain bersama alat-alat dokter kesukaannya adalah salah satu upaya agar ia merasa nyaman dan siap berjuang kembali menyelesaikan tugas-tugas lainnya.  Keesokan harinya, selepas shalat shubuh berjamaah yang diimami anak kedua saya, siswa SMA yang belum sempat mengenakan seragam putih  abu-abu karena daring itu, kembali saya bujuk bungsuku yang baru menginjak usia tujuh tahun ini untuk menggugurkan tugasnya.  Kali ini tugas membaca Rusydan (sebuah metode membaca Al Qur’an inovasi sekolah kami). 

“Ade, kita baca Rusydan yuk”, saya mencoba mengajaknya belajar.  Agak deg-degan, menunggu bagaimana responnya.  “Aah, bunda…ini kan hari Minggu, Adek mau santai”, katanya keberatan.  “Dek, tahu gak, kalau setelah shubuh ini, otak kita dalam kondisi terbaik loh” mencoba menyemangatinya.  “Otak terbaik itu apa”, katanya lugu.  Sambil tersenyum, saya mencoba memberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana, ala anak kelas dua SD.  “Ayo, otak terbaik…mari kita baca …” ajakan saya dengan memberinya konsep diri yang positif, berhasil membuatnya semangat untuk belajar membaca Al Qur’an.  Lumayan, bisa menyelesaikan dua dari tujuh baris yang harus dikuasainya.

Ditengah situasi pandemi seperti ini, dimana siswa-siswa dalam kondisi yang sedang jenuh belajar secara daring, orang tua, sebagai orang terdekat, harus dapat menanamkan konsep diri yang positif kepada anak.  Memandang situasi dengan cara pandang positif, dan menanamkan konsep-konsep diri yang positif, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang optimis, semangat, dan percaya diri dalam menghadapi hidup.

Konsep diri artinya bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri.  Konsep diri dapat dibangun oleh dirinya (internal), maupun dibangun oleh lingkungan sekitarnya (eksternal).  Konsep diri yang terbangun dapat dikategorikan positif maupun negatif, tergantung stimulan yang diterimanya.  Konsep diri yang positif akan menyebabkan sikap ikutan yang positif, demikian juga sebaliknya (Irwan Parayitno, 2021).

Maka ketika konsep diri terhadap pandemi adalah positif, maka sikap ikutannya juga positif, seperti tetap optimis, tetap bersyukur, dan bersandar pada Allah semata dalam menghadapinya.  Sebaliknya, jika konsep dirinya negatif, maka sikap ikutannya juga negatif, seperti sedih, kecewa, banyak mengeluh, dan bahkan menyalahkan keadaan. 

Seberat apapun yang dirasakan anak-anak kita, mari bangun konsep diri positif, membangun citra positif atas diri anak-anak kita, sehingga, meskipun pandemi, mereka tetap dapat tumbuh menjadi pribadi-pribadi positif.  Hindari melabel mereka dengan label negatif, karena itu akan menjadi konsep terhadap dirinya.  Memberi nama anak yang positif adalah bentuk peenanaman konsep diri positif sejak dini.

Menarik kajian yang disampaikan Prof Irwan Prayito, pakar SDM beberapa waktu lalu, bahwa bukan hanya orang tua yang dapat membentuk konsep diri positif/negatif pada anak.  Seorang Pemimpin juga dapat menentukan konsep diri  pada bawahan yang dipimpinnya. Ini mengandung makna, lingkungan yang diciptakan atau dibangun oleh seorang pemimpin, akan sangat signifikan dalam menentukan konsep diri SDM yang dipimpinnya.

Pemimpin yang dimaksud adalah boleh jadi, suami atas istrinya, orang tua atas anaknya, Kepala Sekolah atas gurunya, guru atas siswanya, direktur pada pegawainya, manager pada karyawannya, dan sebagainya.  Definisi pemimpin secara umum adalah orang yang memimpin, mengayomi, membimbing, memotivasi, mengarahkan, bahkan juga menggerakan.

Sebaik apapun konsep diri yang dimiliki oleh seorang bawahan, apabila pemimpinnya tidak memberikan respon positif, menegasikan potensinya, serta tidak menghargai kelebihan-kelebihan bawahannya, maka konsep diri bawahan tersebut dapat berubah menjadi negatif.  Alih-alih potensinya melejit, bahkan ia akan mati kreatifitasnya, dan akhirnya menjadi layu semangatnya, berujung tumbuhnya jiwa apatis dalam dirinya.

Pemimpin seperti ini dikenal dengan pemimpin bermata lalat.  Yang terlihat oleh dirinya adalah kelemahan dan kekurangan bawahannya saja.  Padahal keurangan atau kelemahan pegawainya hanya dua saja, sedangkan kelebihannya lebih dari sepuluh, namun tetap saja yang terlihat kesalahannya.  Pemimpin seperti ini, akan berfokus pada kelemahan bawahannya, sibuk memberi sanksi, sementara kelebihan dari bawahannya yang jauh lebih banyak, tidak menjadi fokus perhatiannya untuk diberdayakan, diapresiasi, bahkan dikembangkan.

Setiap diri adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.  Mari menjadi pemimpin yang mengquantumkan potensi bawahan kita.  Pemimpin yang menggunakan mata hatinya untuk melihat kebaikan dan kelebihan bawahannya.  Membangun konsep diri yang positif.  Menjadikan bawahannya sebagai tim champion , tim yang akan membawa kemajuan dan kemaslahatan bersama.  Kelak, pemimpin seperti ini akan menjadi sesosok jiwa yang dirindukan dan berlimpah do’a do’a terbaik dari bawahannya. Semoga.

*Penulis adalah Kepala Inspektorat Yayasan Adzkia Sumbar, Peserta Diklat Pimpinan Yayasan Adzkia Sumatera Barat.

Galeri Kegiatan

MILAD ADZKIA 31

30 Maret 2019

Haflatul Quran

02 Februari 2019

Manasik Haji Gabungan

08 September 2018

Qurban 1439 H

24 Agustus 2018